Nyobain Ubuntu

July 31, 2006 Posted in Information Technology | Comments (3)

Kemarin saya nyobain Ubuntu di laptop. Katanya sih si Ubuntu ini sekarang jadi distro linux paling laris, karena kemudahannya dan komitmennya buat selalu free of charge

Pas baru nginstall emang ada benernya tentang kemudahan itu. Beda dengan Fedora, yang instalasinya ribet, Ubuntu memasang sistem operasi linuxnya hanya dalam sedikit langkah. Bahkan waktu selesai, boot loadernya langsung memasukkan Windows di dalemnya. Masuk ke Windowsnya pun tanpa masalah. Kalo gak salah dulu waktu nyobain Fedora kalo mau masuk Windows pertama kali harus pake CDnya.

Mengenai masalah-masalah, sejauh ini sih belum ada masalah dengan komputer saya (Iyalah nginstallnya baru tadi malam). Kayaknya sih dia bisa nge-detect semua driver yang dibutuhkan. Konkrit.

Sekian sekilas info :p Agak ga enak badan nih.. Main bolanya terlalu diforsir kemarin :)

8 Jam Sehari

July 19, 2006 Posted in Personal Life | Comments (3)

Tadi pagi, waktu terbangun, waktu terasa begitu cepat berlalu.
Sudah pagi lagi, sudah saatnya berangkat lagi.
Ntar pas sampe rumah, pasti tiba-tiba udah ngantuk aja.
Sudah malam, sudah saatnya tidur lagi.
Entah 8 atau 10 atau 12 jam sehari, rutinitas tidak pernah berhenti.
Dengan waktu sebanyak itu saya memang sudah melakukan banyak hal yang sebelumnya saya rasa saya tidak bisa melakukannya secepat itu sewaktu kuliah.
Jadi tersadar kalo waktu kuliah banyak jam-jam yang terbuang sia-sia.
Padahal kalo diingat-ingat mestinya jumlah jamnya sama loh.
Kalo di sini, berangkat jam 6 pagi dan pulang nyampenya jam 7 malam.
Kalau kuliah, berangkat jam 7 pagi dan pulangnya antara jam 7 sampai 9 malam.
Tapi aku tidak merasa dapat apa-apa dan tidak melakukan banyak hal sewaktu kuliah.
Beda dengan sekarang. Ada aja progress yang berhasil dilakukan.
Berarti kuliahnya belum beres nih. Kurang niat.. 
Padahal mau tingkat terakhir loh! 

Mari Berdoa, Tapi..

July 18, 2006 Posted in Uncategorized | Comments (2)

Kemarin, Indonesia ditimpa musibah.

Lagi.

Kemarin juga saya mendengar pengakuan dosa orang-orang di Jakartan di sebuah stasiun radio. Tapi pengakuan dosa yang diungkapkan dengan bangga melalui sms ke penyiarnya.

Ada yang udah tidur sama istri orang. Ada yang tidur dengan  pacar teman baiknya. Macem-macem.

Semua partisipan tertawa bersama, seolah itu hal yang sederhana.

Saya sendiri entah kenapa merasa biasa dengan kondisi begitu. Kalo boleh melakukan generalisasi, emang kehidupan moral kita sudah seperti itu. Tidak mengherankan, bukan?

Tapi setelah itu tiba-tiba ada sebuah sms yang mengabarkan bahwa Tsunami di Pangandaran itu beneran terjadi.

Sang penyiar langsung mengajak kita berdoa bersama. Agar tidak ada yang terkena bencana lagi.

Sebuah contoh nyata dimana kita mengingat Tuhan hanya ketika kita takut atau sudah ditimpa bencana.

Kita sudah diperingatkan berkali-kali bukan?

Tuhan masih sayang sama kita, karena kita sering diperingatkan.

Mari kita berdoa bersama-sama, agar kita diauhkan dari segala musibah.

Tapi jangan lupa, jangan lari dariNya ketika kita sedang berbahagia. 

Mengenai Pemimpin dan Politik

July 17, 2006 Posted in Opini | Comments (3)

Ada pengalaman pribadi yang menarik ketika saya pindah ke Bandung untuk menjadi seorang mahasiswa. Ini berkaitan dengan siapa yang akan menjadi pemimpin dalam suatu lingkungan, komunitas, apapun. Saya mengalami namanya perubahan lingkungan di sini.

Paradigma sebelumnya, saya berpikir bahwa pemimpin, adalah seseorang yang diberikan tanggung jawab oleh orang banyak karena orang-orang tersebut percaya dengan kemampuannya. Pemimpin itu diperoleh dari musyawarah mufakat. Jadi tidak pernah ada dalam pikiran saya seorang pemimpin itu mencalonkan diri, mengungkapkan visi misinya, dan sebagainya.  Yang ada dalam pikiranku adalah seorang pemimpin berusaha mencapai apa yang diinginkan bersama di komunitasinya, tentunya dengan juga memasukkan pikiran-pikirannya, agar tercapai kesepakatan bersama.

Maka dari itu saya melihat seorang pemimpin punya tanggung jawab yang besar. Dan aku melihat itu juga gak sembarangan mencalonkan diri. Saya gak pernah berani mengajukan diri. Sebab itu berarti harus memiliki kepercayaan dari seluruh komunitasnya sebelum dia mencalonkan diri. Dan terus terang, di sini semua terasa berbeda.

Saya kadang tidak suka dengan calon-calon pemimpin yang berusaha menarik perhatian dan kepercayaan secara instan, yaitu dalam masa kampanye. Calon-calon pemimpin ini sebelumnya tidak terlihat integritasnya di dalam komunitasnya tersebut. Tapi secara mendadak muncul, memberikan pikiran-pikirannya yang mendobrak dan inovatif, dan tentunya dengan strategi-strategi politis di balik tim suksesnya untuk menarik perhatian massa untuk memilihnya.

Kenapa gak dari dulu mas?

Entah kenapa, saya punya pandangan buruk dengan politik. Saya nggak suka. Sebab saya melihat egoisme di balik politik. Yang saya rasakan bukan malah melakukan sesuatu untuk kepentingan dan keuntungan bersama, tapi malah memunculkan egoisme masing-masing untuk mencapai keselamatan dan keuntungan pribadi.

So, what’s your opinion? Saya berusaha membuka pikiran atas pikiran saya yang mungkin kolot ini.

A Little Story about Leno

Posted in Personal Life | Comments (1)

Leno, adalah mobil Suzuki Baleno tahun 2000 yang udah dua tahun menjadi partner dalam berjalan ke sana kemari baik di Bandung maupun Jakarta. Mobil itu dibeli Bapak saya tahun 2004 dari rekannya yang ingin buru-buru menjual mobilnya karena akan pindahan ke kota lain.

Tapi mobil adalah tetap mobil (?). Mobil, terutama yang sudah berumur, pasti rewel. Saya sendiri udah lupa berapa kali mengganti onderdilnya. Mulai dari Power Window, Knalpot, ampas kopling, dan sebagainya. Hebatnya lagi, Leno suka rewel di saat-saat yang tidak seharusnya. Beberapa masalah yang masih bisa diingat:

Power Window

Masalah ini udah kayak mendarah daging dengan Leno. Kira-kira mungkin ada sekitar setengah tahun saya menggunakan fasilitas "membuka pintu" buat ngambilin tanda masuk kampus, tiket di gerbang tol, dan karcis parkir. Setelah mengeluarkan 1,5 juta rupiah untuk membeli power window baru, barulah kaca terkutuk itu bisa naik turun. Sialnya lagi, setelah diperbaiki, masalah lain muncul. Kaca jendela tidak bisa tertutup dengan baik atau.. Miring! Udah berapa montir turun tangan buat nyelesaiin ini tapi akhirnya seseorang yang skillful dari Suzuki Kalimalang berhasil membereskannya minggu lalu.

Knalpot

Sewaktu sedang melaju di Tol Cikampek, saya dikejutkan dengan tenaga mobil yang tiba-tiba hilang. Gak lama kemudian seseorang dari mobil sebelah mengisyaratkan bahwa ada masalah dengan knalpot mobil ini. Saya langsung berhenti dan melihat ke bawah, dan ternyata pipa knalpotnya lepas dari ujung kenalpot dan menggesek jalan. Hmpf.. padahal di saat itu saya harus buru-buru ke Bandara Halimperdanakusuma buat jemput orangtua. Karena gak bisa nemuin sesuatu buat mengikat knalpot itu agar tidak menggesek jalanan, akhirnya saya minta bantuan patroli tol. Lalu mobil diderek ke bengkel di Bekasi. Orangtua saya akhirnya naik taksi dan Bapak saya menyusul ke Bengkel.

Ada cerita lucu sih sewaktu di bengkelnya. Mobil ini sebelumnya pernah ke bengkel tersebut. Masalah knalpot ini bukan yang pertama. Kira-kira seperti ini kejadiannya:
Montir : "Knalpotnya lepas pak, Knalpot yang Bapak pakai sekarang gak bagus kualitasnya.. Saya bisa ngasih yang bagus dan nggak bakal gini Pak.."
Bapak saya
: "Lho? Kan knalpot yang lama itu dipasang di sini?"
Montir : (Kaget) "…"
Akhirnya sang montir memberi diskon.

Ampas Kopling

Ya kembali, masalah muncul di jalan tol. Tiba-tiba mobil bisa di-gas dengan putaran mesin tinggi tapi kecepatannya gak naik-naik. Akhirnya saya mengemudikan mobil itu pelan-pelan sampai ke bengkel. Dan ternyata setelah didiagnostik di sana, ampas koplingnya sudah harus diganti. Buset. Kenapa sih kejadiannya selalu di jalan tol?

Sebenernya sih ada beberapa masalah lain, seperti lampu belakang, tape, dan lain-lain yang sifatnya gak begitu penting. Tapi gak diceritain di sini. Sebenarnya masalah-masalah yang terkait lebih ke arah onderdil-onderdilnya yang sudah berumur dan waktunya untuk diganti. Mesinnya sih baik-baik aja. Mobil itu udah mengalami perjalanan jauh dari Pekanbaru - Bandung, Melewati daerah perbukitan (sewaktu pelantikan dan acara-acara himpunan lainnya). Mesinnya masih oke kok. Namun, Bapak saya kemarin menuturkan tekadnya untuk menjual mobil itu. Sayang banget sih sebenarnya kalo mobil itu harus dijual. Soalnya udah sehati sih.. Mau make ampe tua juga gapapa deh. Udah banyak kenangannya. Hehe.. emoticon

Ada yang berminat? 

Malam-Malam.. Bengong..

Posted in Personal Life | Comments (4)

Wadoh…!

Kenapa bisa bangun jam segini? Tidur sore-sore, dan kebangun jam 11 malam? Buset..

Jadilah sekarang malam yang panjang.

Terduduk di atas kasur

Berduel dengan nyamuk-nyamuk ganas yang belum sarapan

Memandangi hp yang udah berisi 4 sms dan banyak sekali missed calls. 

Beberapa hari yang lalu saya emang sempet menginginkan sebuah hari di mana bisa dari rutinitas sehari-hari dan menghabiskannya dengan bermalas-malasan. Dan hari ini, hal itu bener-bener terjadi. Berikut kronologisnya:

05:00
Bangun pagi-pagi, nganterin orangtua ke Bandara Halimperdanakusuma, selanjutnya pulang, lalu tidur.

09:00
Bikin sarapan, terus main FM (Haha.. udah lama nih..), terus tiba-tiba keinget sama sebuah novel yang belum selesai dibaca. Akhirnya baca novel sampai siang.

14:00
Siangnya (kira-kira pukul 2 ) mandi, makan, lalu browsing-browsing bentar, lalu membaca majalah dan koran-koran, shalat, terus gak jelas (Lupa udah ngapain aja).

16.30
Tiba-tiba ngantuk setelah baca majalah.

23.00
Terbangun sambil menyaksikan jendela yang gelap. Terus bingung..

Anak-anak, jangan ditiru ya…  

4 Days in Bali…!

July 8, 2006 Posted in Personal Life, Fun | Comments (4)

Well, di tengah-tengah masa Kerja Praktek saya, dengan ‘kurang ajarnya’ saya minta izin untuk berlibur ke Bali dengan alasan pernikahan sepupu. Untungnya sang bos mengizinkan. Jadilah saya, bersama rombongan keluarga besar sebanyak 12 orang, pergi berlibur ke Bali. Maaf ya Bos!emoticon

FYI, saya punya garis keturunan Bali. Bapak saya asli Bali dan dulunya tinggal di Tohpati, Kesiman. Coba aja liat wajah saya. Kayak Dewa Budjana loh. Hehehe… emoticon

Lanjut, kalo di KP kita punya activity log untuk memudahkan kita membuat laporan nantinya, saya juga punya sedikit ‘activity log’ mengenai liburan beberapa hari ini. Buat apa? Biar inget udah ngapain aja di sana. Maklum saya anaknya pelupa. Sekalian bisa berbagi cerita. Kalo Anda mau sedikit melihat-lihat, silahkan scroll ke bawah.

Day 0, Selasa 4 Juli 2006

Yap! Liburan dimulai. Rombongan "jalan-jalan-ke-Bali" yang terdiri dari saya, Bapak, Ibu, Livy, Nomi, beserta tujuh orang anggota keluarga besar Petemon (Keluarga dari Ibu) bertolak dari Soekarno-Hatta dan tiba di bandara Ngurah Rai, Bali sekitar pukul 18:00 waktu setempat. Malamnya kami menginap di Inna Sanur Beach Hotel yang (tentunya..) berada di tepi pantai Sanur. Nggak ada aktivitas khusus malam ini. Habis buat perjalanan.

Day 1, Rabu 5 Juli 2006

Hari ini adalah hari pernikahan. Soalnya dihabiskan dengan mendatangi acara pernikahan sepupu saya di Bali. Upacaranya berlangsung menggunakan adat Bali tentunya. Setelah mendatangi upacara pernikahan tersebut, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang budaya Bali. Soalnya sepertinya bener-bener orisinil.

Oh iya ada yang menarik.  Di acara pernikahan tersebut  terdapat sebuah grup musik gamelan yang mengiringi acara pernikahan. Dan salah satu dari sekian banyak orang yang memainkan gamelan tersebut, hadirlah seorang Wanita Bule yang memainkan sejenis biola. Sedang apa dia ya? Mempelajari budaya Bali? Ingin menjadi orang Bali? Yang jelas kehadirannya begitu mencolok.

Kembali ke acara pernikahan. Acara ini sendiri terdiri atas dua bagian. Yang pertama, pagi hari, adalah acara Mesakapan. Apa yang dilakukan di sana lebih kurang sebagai ucapan Ijab Kabul, peresmian ikatan pernikahan dengan menuliskannya di catatan Sipil, dan juga pengesahan ikatan pernikahan dalam agama Hindu. Acara berlangsung sekitar 1 jam plus makan-makan.

Bagian kedua, bernama Pamitan dan Wetonan, dilakukan sore harinya di rumah mempelai wanita. Acara ini berkaitan erat dengan budaya Bali mengenai status wanita yang dinikahi. Seorang wanita yang dinikahi, berarti "diambil" dari keluarganya. Setelah pengambilan tersebut, orangtua wanita itu tidak memiliki hak asuh lagi terhadap anaknya. Anak tersebut telah menjadi "milik" sang suami. Pamitan sendiri berarti pamit dari rumah, keluarga, dan leluhur. Sementara Wetonan dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh urusan sang wanita dengan rumah tersebut. Acara berlangsung juga lebih kurang selama 1 jam, lalu kembali dilanjutkan makan-makan dan silaturahmi.

Selain kedua acara tersebut, malamnya, seperti umumnya pernikahan, diadakan resepsi. Sebenarnya dalam budaya Bali tidak ada acara resepsi. Hanya saja acara ini diadakan untuk mengundang selueuh teman-teman dan rekan kerja agar bisa turut merayakan pernikahan ini.

Dan tau gak apa yang bisa didapatkan dari semua acara tersebut?

Perut penuh..

Day 2, Kamis 6 Juli 2006

Pagi hari, rombongan bertolak ke Inna Kuta Beach Hotel. Kami berganti suasana dari Pantai Sanur ke Pantai Kuta. Dari sepi ke ramai. Dari pemandangan matahari terbit ke matahari terbenam. Menarik juga melihat perbedaan yang begitu kentara dari kedua pantai tersebut. Kuta begitu ramai. Sementara Sanur sepi. Mungkin ini dikarenakan Sanur pantainya kecil dan tidak sebersih Kuta.

Setelah meletakkan barang-barang di hotel, rombongan ini langsung menelusuri tempat-tempat wisata di bagian Barat Bali (sebenarnya tengah sih..), yaitu Pura Kedaton, Bedugul, Tanah Lot, dan satu lagi tempat yang banyak kera-nya.. Sori lupa. Hehehe. Dari semua tempat itu yang paling berkesan adalah Tanah Lot. Pemandangan matahari terbenam dari Tanah Lot benar-benar indah. Semua orang yang datang ke sana menghabiskan waktu untuk mengabadikannya.

Tapi bukan berarti tempat lain gak seru, di tempat kera itu (duh apa namanya ya?), kami dihadapkan dengan 500 kera liar yang kelaparan. Maklum, pengelola setempat tidak punya dana untuk memberi makan kera-kera tersebut. Makanan kera-kera itu datang dari kacang-kacang yang diberi pengunjung. Kacang-kacang itu bisa dibeli sewaktu masuk ke dalam. Sayangnya, dikarenakan jumlah turis yang menurun sejak ada Bom Bali I dan II, jumlah pengunjung tempat ini otomatis menjadi sedikit, yang juga berarti, jumlah makanan yang diberikan ke kera-kera menjadi sedikit. Hasilnya kera-kera tersebut selalu sigap mengambil kacang yang ada di tangan pengunjung dan bahkan seringkali berantem sesamanya untuk mendapatkan kacang-kacang yang jatuh. Sedih bener.

Lebih menyedihkan lagi, setelah selesai, kami digiring ke salah satu dari puluhan tempat souvenir di sana oleh pemandunya dan setengah dipaksa untuk membeli souvenir-souvenir tersebut. Karena kasihan dan nggak enak, akhirnya kami membeli beberapa souvenirnya. Setelah melihat kondisi toko-toko dan kelakuan para penjualnya, saya ngerasa pasti toko-toko ini penjualannya sudah sangat minim.

Rombongan ini sampai kembali di Hotel kira-kira pukul 8 Malam. Perjalanan hari ini sangat melelahkan. Tapi jangan salah, anggota rombongan bergender perempuan tidak segan-segan melanjutkan hari dengan berbelanja di Kuta. Sementara anggota bergender lawannya tewas di tempat tidur. Hehe..

Day 3, Jumat 7 Juli 2006

Inilah hari idaman para wanita. Hari ini jadwalnya adalah: Belanja! Kuta merupakan surga belanja karena bermacam-macam produk internasional berada di situ. Otomatis hari itu habis untuk belanja, berkeliling, dan membeli oleh-oleh. Nothing special..

Day 4, Sabtu 8 Juli 2006

Pulang deh. Pesawat berangkat pukul 12.00 waktu setempat, dan akhirnya saya sampai di Bekasi kota tercinta pukul 16.30.

Sebenernya ya, tempat wisata di Bali itu banyak banget. Kalo punya waktu seminggu, mungkin kita bisa menjelajahi seluruh tempat wisata di Bali. Tapi sayangnya, dari beberapa yang saya lihat sekarang dan tahun-tahun sebelumnya kunjungan ke kampung halaman ini, objek-objek wisata tersebut kurang dipelihara dengan baik. Sehingga banyak muncul hal-hal menyedihkan seperti kisah di atas. Bali bener-bener kaya akan budaya dan sangat menarik buat dikunjungi. Mestinya jangan sampai disia-siakan. Itu kan aset negara loh dari sektor pariwisata..

Buat yang belum pernah ke Bali, segera lah ke Bali. Pemerintah setempat sedang berusaha mendatangkan turis-turis domestik, karena turis internasional mulai menurun. Dengan datang, kita bisa menghidupkan dan meramaikan lagi Bali agar kehidupan pariwisatanya bisa kembali. Banyak loh orang-orang yang kehilangan pendapatan karena peristiwa Bom Bali. Restoran-restoran yang biasanya ramai, jadi sepi. Pedagang kerajinan di pasar-pasar mulai bingung karena barang-barangnya tak kunjung dibeli.

Jadi, datang ke Bali ya! 

Tangisi Negeri Kita Sendiri

July 2, 2006 Posted in Opini | Comments (2)

Kemarin malam, saya tertegun menyaksikan kekalahan Inggris atas Portugal. Negara ini kembali gagal di tangan adu penalti. Suatu hal yang menjadi ‘kutukan’. Inggris tidak pernah menang melalui adu penalti. Selalu kalah menyakitkan.

Saya pun kembali melanjutkan menonton TV, sebuah komentar muncul dari salah satu pembawa acara kuis Piala Dunia di SCTV, yang mengatakan bahwa penggemar Inggris jangan bersedih. Di turnamen berikutnya pasti bisa lebih baik lagi.

Sewaktu mendengar itu, saya langsung kepikiran. Kenapa sih kita heboh-heboh menjadi pecinta dari salah satu negara yang ada di dunia? Kalo jadi penggemar saja sih mungkin tidak apa-apa, tapi kalo sudah sampai menangis sedih karena kekalahan suatu tim yang tidak ada hubungannya ke kita, dan lagi itu bukan tim nasional kita, tampaknya cukup aneh.

Penggemar sepakbola kita lebih cenderung memperhatikan dunia sepakbola internasional dibandingkan sepakbola nasional. Saya yakin banyak orang akan dengan mudahnya menyebutkan seluruh anggota timnas Inggris sampai pemain yang kurang dikenal, seperti Scott Carson misalnya, dibandingkan dengan anggota timnas kita yang lagi belajar di Belanda.

Kebanggaan kita terhadap negara kita sendiri sudah luntur.

Kita negara besar loh, ada lebih dari 200 juta penduduk di sini yang sebagian besar di antaranya mencintai sepakbola. Tapi kenapa tidak ada Lionel Messi, Ronaldinho, atau Wayne Rooney -nya Indonesia. Kenapa dari sekumpulan besar manusia itu nggak ada yang muncul seorang tokoh besar sepakbola yang akan membangkitkan sepakbola kita?

Mungkin jawabannya pembinaan pemain muda dan kualitas kompetisi kita.

So, sekarang, piala dunia, adalah saat kita untuk mempelajari kualitas sepakbola dunia dan membawanya ke Indonesia. Jangan tangisi kekalahan negara lain. Di pelupuk mata kita, sepakbola Indonesia, masih merangkak mencari bentuk diriya. Mencari dukungan dari bangsa kita sendiri untuk tetap hidup.