Tangisi Negeri Kita Sendiri
July 2, 2006
Posted in Opini |
Kemarin malam, saya tertegun menyaksikan kekalahan Inggris atas Portugal. Negara ini kembali gagal di tangan adu penalti. Suatu hal yang menjadi ‘kutukan’. Inggris tidak pernah menang melalui adu penalti. Selalu kalah menyakitkan.
Saya pun kembali melanjutkan menonton TV, sebuah komentar muncul dari salah satu pembawa acara kuis Piala Dunia di SCTV, yang mengatakan bahwa penggemar Inggris jangan bersedih. Di turnamen berikutnya pasti bisa lebih baik lagi.
Sewaktu mendengar itu, saya langsung kepikiran. Kenapa sih kita heboh-heboh menjadi pecinta dari salah satu negara yang ada di dunia? Kalo jadi penggemar saja sih mungkin tidak apa-apa, tapi kalo sudah sampai menangis sedih karena kekalahan suatu tim yang tidak ada hubungannya ke kita, dan lagi itu bukan tim nasional kita, tampaknya cukup aneh.
Penggemar sepakbola kita lebih cenderung memperhatikan dunia sepakbola internasional dibandingkan sepakbola nasional. Saya yakin banyak orang akan dengan mudahnya menyebutkan seluruh anggota timnas Inggris sampai pemain yang kurang dikenal, seperti Scott Carson misalnya, dibandingkan dengan anggota timnas kita yang lagi belajar di Belanda.
Kebanggaan kita terhadap negara kita sendiri sudah luntur.
Kita negara besar loh, ada lebih dari 200 juta penduduk di sini yang sebagian besar di antaranya mencintai sepakbola. Tapi kenapa tidak ada Lionel Messi, Ronaldinho, atau Wayne Rooney -nya Indonesia. Kenapa dari sekumpulan besar manusia itu nggak ada yang muncul seorang tokoh besar sepakbola yang akan membangkitkan sepakbola kita?
Mungkin jawabannya pembinaan pemain muda dan kualitas kompetisi kita.
So, sekarang, piala dunia, adalah saat kita untuk mempelajari kualitas sepakbola dunia dan membawanya ke Indonesia. Jangan tangisi kekalahan negara lain. Di pelupuk mata kita, sepakbola Indonesia, masih merangkak mencari bentuk diriya. Mencari dukungan dari bangsa kita sendiri untuk tetap hidup.
Menurut gw itu karena :
1. Sepakbola dalam negeri kurang disorot media. Yah, emang jelaslah kalah pamor. Kalau mereka bikin acara sepakbola dalam negeri, pasti untungnya lebih kecil kan?
2. Pemain kita belum ada yang bisa jadi teladan. Jadi tokoh yang bisa diidolakan orang banyak. Masih kalah tuh sama Indonesian Idol, hehe…
3. Ya, sikap kita2 sendiri yang lebih suka bau2 asing. Heh… kita sudah kehilangan jati diri
Comment by Weno — July 3, 2006 @ 12:53 pm
Setuju Wen..
Comment by brahmasta — July 13, 2006 @ 11:13 am