IT Doesn’t Matter?

August 30, 2006 Posted in Opini | Comments (3)

Teknologi Informasi itu nggak penting! Yang penting itu proses bisnisnya. Halah.. Saya mau kuliah tentang Sistem Informasi Enterprise tapi malah itu yang keinget-inget dan menohok. Kata-kata itu mengingatkan saya tentang mengapa proyek IT itu gagal, tidak digunakan, dan sia-sia.

Saya punya sebuah pengalaman sederhana ketika kerja praktek kemarin. Saat itu, saya mendapat tugas untuk membuat sebuah aplikasi sederhana untuk memudahkan mengambil phone billing report dari sebuah database. Report yang diambil bisa berupa daftar telpon yang dilakukan oleh sebuah ekstensi telepon per hari, pengeluaran total setiap ekstensi telepon, pengeluaran total untuk telepon internasional, dan sebagainya.

Yang jadi poin penting bukan aplikasi apa itu, tapi bagaimana saya terjebak dalam kondisi untuk selalu memberikan fitur di dalam aplikasi tersebut. Aplikasi itu boleh dibilang sederhana, karena hanya tinggal mengambil dari database sesuai dengan parameter-parameter yang telah ditetapkan seperti waktu, daerah, dan sebagainya. Tapi ketika semua fungsi itu berhasil selesai dibayangkan pembuatannya, saya pun pusing bagaimana cara menampilkan fungsi-fungsi itu agar terlihat canggih. Akhirnya, molor lah pengerjaan tugas itu sehingga hasilnya nggak sempurna.

Saya nggak tau apakah banyak orang IT yang berpikir seperti itu, tapi dosen saya di kuliah Sistem Informasi Enterprise ini bercerita bahwa itu sangat sering terjadi. Kita selalu bicara teknologi apa yang digunakan, bagaimana menerapkannya, semacam itulah..

Padahal yang dibutuhkan di dunia nyata, nggak seperti itu. Tapi apakah hasil penerapan IT itu tepat guna, mendukung proses bisnis. Kalo diambil contoh pada aplikasi kerja praktek saya, yang penting fungsinya jadi, penampilannya sesuai kebutuhan, hasilnya tepat, dan tentunya aplikasi itu harus diselesaikan tepat waktu. Jadi segala faktor yang berhubungan dengan hal-hal yang membuat pengguna atau orang IT berkata "Wah!" itu nggak penting.

Kata sang dosen sendiri, terkait masalah ini ada sebuah artikel berjudul "IT Doesn’t Matter". Artikel itu sendiri katanya cukup menghebohkan dan menohok orang IT. Setelah saya cari di Google, saya menemukan beberapa link terkait dengan artikel itu, tapi ini sepertinya yang paling konkrit:

Jadi kesimpulannya, pastikan teknologi yang Anda pakai , gunakan, dan ciptakan tepat guna. Analoginya, gak baik kalo anda membeli handphone canggih dilengkapi dengan semua fitur terkini tapi cuma dipake buat telpon dan sms. Gak perlu pake database Oracle buat perpustakaan kecil. Gak perlu bikin fitur-fitur aneh kalo gak kepake.

OSKM?

August 19, 2006 Posted in Opini | Comments (5)

Suasana OSKM 2004. Copyright by Boulevard OSKM, singkatan dari Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa, merupakan event tahunan yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa ITB setiap kali tahun ajaran baru dimulai. Kegiatan ini ditujukan untuk mahasiswa angkatan terbaru. Tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai kemahasiswaan kepada mahasiswa-mahasiswa baru tersebut.

Setiap tahunnya OSKM mengusung sebuah tema terentu. Tahun 2003, di mana saya jadi peserta, temanya adalah Kreativitas Membangun Integrasi. OSKM 2004 bertemakan Dari ITB untuk Bangsa. Tahun lalu, temanya Integrasi dan Pembelajaran. Tahun ini? Hm.. Saya nggak tahu. emoticon

OSKM bukan ospek atau perploncoan. Hal itu kerasa banget waktu saya jadi peserta di tahun 2003 dan panitia di tahun 2004. Di sini, kalo kita bener-bener mencoba mengerti makna yang ingin disampaikan dari kegiatan ini, kita akan mendapatkan banyak pembelajaran. Contohnya aja, kalo nggak salah di tahun 2003 dulu, saya menjadi mengerti akan potensi diri, kewajiban seorang mahasiswa untuk berjuang demi negaranya, dan pentingnya integrasi baik itu di dalam kampus maupun di dalam negara kita sendiri. 

Read more…

Tujuhbelasan dan Warganegara yang Baik

August 17, 2006 Posted in Opini | Comments (1)

Yah postingnya tentang tujuhbelasan.. basi ga sih?

Hehe, jujur aja, gw nulis ini bukan karena membaca dari tempat lain, tapi karena tadi siang juga kepikiran. Soalnya, pada hari ini lah, negara kita tercinta resmi berada. Pada tanggal ini lah (dan tentunya dengan tahun yang berbeda. Hohoho..) perjuangan untuk mendapatkan kebebasan telah berakhir. Kita adalah Indonesia.

Tapi, apakah kita benar-benar bebas?

Read more…

Dipresentasi MLM

August 1, 2006 Posted in Personal Life, Opini | Comments (1)

Kemarin, saya chatting dengan seorang teman lama dari sekolah. Setelah ber-say hi dan nanyain di mana kuliah, dia langsung menawarkan sebuah bisnis.

Saya yang kebetulan sekali sudah sering mendengar manuver seperti ini, langsung sadar. Dia pasti baru bergabung dengan sebuah MLM, dan mau mengajak saya jadi downlinenya. Kebetulan saya sendiri pernah ikutan MLM sewaktu tingkat satu, sebelum akhirnya keluar.

Berikut kutipan pembicaraan saya dengan teman tersebut. Namanya sengaja saya samarkan jadi mlmers, dan nama-nama lain disandikan, biar privacy si teman saya ini gak terganggu.

Read more…

Mengenai Pemimpin dan Politik

July 17, 2006 Posted in Opini | Comments (3)

Ada pengalaman pribadi yang menarik ketika saya pindah ke Bandung untuk menjadi seorang mahasiswa. Ini berkaitan dengan siapa yang akan menjadi pemimpin dalam suatu lingkungan, komunitas, apapun. Saya mengalami namanya perubahan lingkungan di sini.

Paradigma sebelumnya, saya berpikir bahwa pemimpin, adalah seseorang yang diberikan tanggung jawab oleh orang banyak karena orang-orang tersebut percaya dengan kemampuannya. Pemimpin itu diperoleh dari musyawarah mufakat. Jadi tidak pernah ada dalam pikiran saya seorang pemimpin itu mencalonkan diri, mengungkapkan visi misinya, dan sebagainya.  Yang ada dalam pikiranku adalah seorang pemimpin berusaha mencapai apa yang diinginkan bersama di komunitasinya, tentunya dengan juga memasukkan pikiran-pikirannya, agar tercapai kesepakatan bersama.

Maka dari itu saya melihat seorang pemimpin punya tanggung jawab yang besar. Dan aku melihat itu juga gak sembarangan mencalonkan diri. Saya gak pernah berani mengajukan diri. Sebab itu berarti harus memiliki kepercayaan dari seluruh komunitasnya sebelum dia mencalonkan diri. Dan terus terang, di sini semua terasa berbeda.

Saya kadang tidak suka dengan calon-calon pemimpin yang berusaha menarik perhatian dan kepercayaan secara instan, yaitu dalam masa kampanye. Calon-calon pemimpin ini sebelumnya tidak terlihat integritasnya di dalam komunitasnya tersebut. Tapi secara mendadak muncul, memberikan pikiran-pikirannya yang mendobrak dan inovatif, dan tentunya dengan strategi-strategi politis di balik tim suksesnya untuk menarik perhatian massa untuk memilihnya.

Kenapa gak dari dulu mas?

Entah kenapa, saya punya pandangan buruk dengan politik. Saya nggak suka. Sebab saya melihat egoisme di balik politik. Yang saya rasakan bukan malah melakukan sesuatu untuk kepentingan dan keuntungan bersama, tapi malah memunculkan egoisme masing-masing untuk mencapai keselamatan dan keuntungan pribadi.

So, what’s your opinion? Saya berusaha membuka pikiran atas pikiran saya yang mungkin kolot ini.

Tangisi Negeri Kita Sendiri

July 2, 2006 Posted in Opini | Comments (2)

Kemarin malam, saya tertegun menyaksikan kekalahan Inggris atas Portugal. Negara ini kembali gagal di tangan adu penalti. Suatu hal yang menjadi ‘kutukan’. Inggris tidak pernah menang melalui adu penalti. Selalu kalah menyakitkan.

Saya pun kembali melanjutkan menonton TV, sebuah komentar muncul dari salah satu pembawa acara kuis Piala Dunia di SCTV, yang mengatakan bahwa penggemar Inggris jangan bersedih. Di turnamen berikutnya pasti bisa lebih baik lagi.

Sewaktu mendengar itu, saya langsung kepikiran. Kenapa sih kita heboh-heboh menjadi pecinta dari salah satu negara yang ada di dunia? Kalo jadi penggemar saja sih mungkin tidak apa-apa, tapi kalo sudah sampai menangis sedih karena kekalahan suatu tim yang tidak ada hubungannya ke kita, dan lagi itu bukan tim nasional kita, tampaknya cukup aneh.

Penggemar sepakbola kita lebih cenderung memperhatikan dunia sepakbola internasional dibandingkan sepakbola nasional. Saya yakin banyak orang akan dengan mudahnya menyebutkan seluruh anggota timnas Inggris sampai pemain yang kurang dikenal, seperti Scott Carson misalnya, dibandingkan dengan anggota timnas kita yang lagi belajar di Belanda.

Kebanggaan kita terhadap negara kita sendiri sudah luntur.

Kita negara besar loh, ada lebih dari 200 juta penduduk di sini yang sebagian besar di antaranya mencintai sepakbola. Tapi kenapa tidak ada Lionel Messi, Ronaldinho, atau Wayne Rooney -nya Indonesia. Kenapa dari sekumpulan besar manusia itu nggak ada yang muncul seorang tokoh besar sepakbola yang akan membangkitkan sepakbola kita?

Mungkin jawabannya pembinaan pemain muda dan kualitas kompetisi kita.

So, sekarang, piala dunia, adalah saat kita untuk mempelajari kualitas sepakbola dunia dan membawanya ke Indonesia. Jangan tangisi kekalahan negara lain. Di pelupuk mata kita, sepakbola Indonesia, masih merangkak mencari bentuk diriya. Mencari dukungan dari bangsa kita sendiri untuk tetap hidup.

Manchester United 1999

April 17, 2006 Posted in Fun, Opini | Comments (2)

Gol kemenangan Soskjaer di final 1999

Hari ini, 17 April 2006, Manchester United (MU) berhasil memenangkan pertandingan melawan Tottenham Hotspurs dengan skor 1-2. Wayne Rooney menjadi pahlawan kemenangan MU dengan dua golnya. Dengan kemenangan ini, perayaan juara Chelsea jadi sedikit tertunda. Tidak hari ini Chelsea.. Hehe..

Ketika melihat MU sekarang dibandingkan dengan MU dulu, ketika meraih Treble Winners tahun 1999 (Juara Liga, Piala FA, dan Liga Champions), saya melihat sangat banyak perbedaan. Mulai dari cara bermainnya, karakter pemain-pemainnya (ya iyalah pemainnya juga udah ganti..), dan yang paling penting yang saya rasakan, adalah sekarang saya nggak berani yakin bahwa MU bakal menang dalam suatu pertandingan. Pasti bawaannya nggak tenang kalo nonton MU. Mereka bisa mempertahankan keunggulan ga ya? Mereka bisa mencetak gol gak ya? Itu Ronaldo bakal main nggak konkrit gak ya? Rio Ferdinand bakal main bagus gak ya?

Kalo nonton MU tahun 1999 dulu, sampai beberapa tahun berikutnya, saya nggak akan khawatir MU bakal kalah atau ditahan imbang 0-0. Pertandingan pasti akan dihadiri banyak gol berkualitas. Bukan gol-gol kebetulan hasil kesalahan lawan, tapi gol-gol hasil kerjasama yang baik dari tim.

Ryan Giggs pasti akan mengobrak-abrik pertahanan dari sayap kiri, memberi umpan silang yang matang, atau muncul lepas dari jebakan offside mendapatkan umpan lambung dari belakang.

David Beckham adalah spesialis bola-bola jauh dari sayap kanan. Dia tidak pernah menggiring bola. Dia cukup memberikan bola langsung kepada siapapun yang punya kesempatan mencetak gol. Permainannya stabil. Dan menghasilkan banyak assist buat gol-gol MU.

Paul Scholes selalu mengejutkan dari luat kotak penalti dengan tendangan kerasnya. Roy Keane adalah pemimpin tim yang sangat dibutuhkan sebagai pemberi inspirasi. Lini belakang selalu dipegang oleh Jaap Stam, Ronny Johnsen, Dennis Irwin, dan Gary Neville yang meskipun gak terlalu tangguh, cukup membuat hati tenang

Di lini depan ada duet keling Dwight Yorke dan Andy Cole. Meski kadang sering kelihatan kurang skill, tapi konkrit. Banyak golnya.. Yorke selalu siap menerima umpan silang Beckham dan meneruskan ke gawang.

Kalau misalnya si duet keling itu lagi gak jelas, MU punya cadangan yang gak kalah kelas. Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer siap menggantikan dan mencetak  gol di menit-menit terakhir. Ingat aja contohnya di final Liga Champions. Keduanya mencetak gol kemenangan MU pada saat injury time.

Oh iya jangan lupain cadangan-cadangan lainnya, masih ada Nicky Butt, Phil Neville, Henning Berg, David May, Jesper Blomvqist (bener gak ya namanya), Wesley Brown (baru masuk tim), dan Raymond van der Gouw.

Wah kalo diceritain pasti banyak lagi. MU is my favorite. Jadi inget waktu saya loncat teriak ngelihat gol Soskjaer dan heboh sendiri malam-malam di rumah pas final Liga Champion 1999 (kebayang?). Musim itu benar-benar jadi musim terbaik untuk MU. Kapan ya bisa terulang lagi?

Sajian Televisi Kita..

Posted in Opini | Comments (2)

Sejak selesai berkutat dengan penyakit hepatitis beberapa waktu yang lalu, saya jadi sering menghabiskan waktu di kostan. Sebelumnya, waktu sakit, saya juga menghabiskan waktu di tempat tidur. Satu-satunya aktivitas yang tidak menghabiskan tenaga dan gampang dilakukan adalah menonton televisi. Gampang. Tinggal nyalakan, dan nikmati.

Tapi setelah berhari-hari melihat acara televisi, saya menemukan bahwa dunia pertelevisian udah nggak semenarik waktu masih SD dulu (Lha jauh banget ya bandingannya?). Yah nggak pas SD aja sih. Pokoknya sebelum kuliah. Dulu, saya punya beberapa tontonan wajib. Tontonan yang nggak akan ditinggalkan walau apapun yang terjadi. Contohnya kartun-kartun hari minggu, siaran sepakbola Liga Inggris plus berita-berita sepakbola, Si Doel anak sekolahan, Seputar Indonesia, dan apa lagi ya? Banyak kayaknya. Bahkan saya begitu merasakan kehadiran Dunia Dalam Berita yang hadir jam 7 malam dan 9 malam [CMIIW]. Jam-jam segitu terasa begitu sakral. Haha..

Kembali ke atas, kenapa saya bilang dunia televisi kita kurang menarik? Karena acara-acaranya monoton. Setiap channel sepertinya memberi sesuatu yang sama. Nggak ada yang bener-bener unik. Contohnya ya acara gosip yang selalu ada pagi, siang, sore, dan bahkan tengah malam, sinetron yang ceritanya melulu tentang cinta anak SMU, dan sebagainya. Semuanya terlihat begitu jelas dan mudah ditebak. Ketika Anda mencoba melihat seluruh channel di suatu waktu sama, pasti kebanyakan acaranya menyajikan sesuatu yang sejenis. Jadi Anda akan dengan cerdasnya bisa menebak acara apa itu.

Terus hal lain yang saya perhatikan adalah acara-acara tersebut terkesan begitu mudah dibuat. Dangkal. Entah kenapa. Contohnya acara-acara kuis seperti Indosat Super Show atau sejenisnya yang membawa suatu nama komersil. Pasti isinya ada band yang tampil, kuis-kuis berhadiah baik melalui sms maupun telepon, terus ada pembawa acara yang cantik-cantik disodorkan biar penonton pria pada melotot memandanginya.

Kedangkalan lain yang terlihat jelas adalah acara-acara agama. Dari judulnya aja udah terlihat kurang mencari makna. Sebut misalnya Kusebut NamaMu, yang nota bene adalah reff dari lagu Dewa 19. Terlihat sekali sengaja dipas-pasin. Terus ada Taubat, Insyaf dan apapun yang sejenisnya yang menunjukkan kitab Al-Quran di logo awalnya tapi isinya banyak gak jauh-jauh dari prostitusi. Yang ditontonkan wanita-wanita yang ceritanya terlibat prostitusi yang pastinya berpakaian seksi. Film agama kok ngasih cewe-cewe berbaju seksi. Kalo memang cerita seperti itu harus diungkapkan, jangan dipertontonkan! Ya nggak? Kenapa sih, ceritanya nggak orang-orang yang kena akibatnya karena korupsi, kolusi, dan nepotheisme? Atau ceritakan tentang seorang manusia yang bisa teguh membawa diri di tengah maraknya budaya barat yang muncul, tetap berbakti pada orangtua, jujur dalam segala aktivitasnya. Kan lebih baik ngajarin masyarakat untuk bersikap jujur daripada memunculkan ide di benak mereka buat melakukan yang nggak-nggak. Jadi kembali ke dangkal tadi, film-film rohani tersebut kehilangan maknanya.

Begitulah yang terjadi, banyak acara-acara kita yang kehilangan maknanya. Waktu kita habis untuk menonton sesuatu yang tidak menambah sesuatu ke dalam kita. Saya jadi ingat dulu di TPI ada acara yang membahas pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah. Ilmu-ilmu Fisika, Matematika, Biologi. Saya selalu nonton itu sebelum berangkat ke sekolah yang dimulai siang hari. Saya jelas-jelas mendapat sesuatu dari situ..

Tapi di luar itu, saya masih punya beberapa acara yang menarik buat saya. Menurut saya cukup unik dan menghibur, meski gak selalu saya tonton:

  • Sport TV7 : Menarik, karena muncul setiap pagi [jam 7.30]dan membahas seluruh kejadian dalam dunia olahraga. Buat yang suka olahraga pasti jadi tontonan wajib.
  • Autobiography : Acara satu jam yang membahas tentang perjalanan hidup tokoh-tokoh penting dunia. Ada di Metro TV setiap Sabtu pukul 17.00
  • Extravaganza : Nggak tau kenapa jarang nggak lucu. Bagus buat hiburan.
  • Bajaj Bajuri : Sampai kapanpun kayaknya saya pasti nonton acara ini. Padahal diulang-ulang terusMenarik karena seperti melihat bangsa sendiri. Beneran loh..
  • Bang Jagur : Yah membawa penyegaran rohani dengan sederhana dan menghibur..
  • Liga Inggris!! Haha yah sekarang liga Inggris menjadi liga paling banyak ditonton di dunia [Hasil poling ESPN]. Saya selalu nonton big match dan highlightnya.

Hm, setelah dilihat-lihat emang banyak juga yang menarik ya? Pesannya, tonton acara yang berkualitas. Karena menonton TV itu menyia-nyiakan waktu. Membuat kita nggak produktif.. Sip?